Aceh Timur, HARIANREPORTASE.com – Tumpukan sampah yang membusuk di pusat pasar Gampong Labuhan Keude, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Aceh Timur, menimbulkan keresahan warga dan pengunjung pasar.
Sampah yang sudah berhari-hari tidak diangkut itu mengeluarkan bau busuk menyengat dan mengganggu kenyamanan serta kesehatan masyarakat sekitar.
Salah satu perangkat Gampong yang menjabat sebagai Kasi Pelayanan, yang akrab disapa Opung, mengungkapkan bahwa biasanya sampah diangkut dua kali seminggu oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Aceh Timur, yakni setiap Senin dan Kamis. Namun, belakangan ini pengangkutan hanya dilakukan sekali dalam seminggu.
“Sampah terus menumpuk dan menimbulkan bau busuk. Warga dan pengunjung pasar sangat terganggu. Ini bukan hanya soal estetika, tapi sudah mengganggu kesehatan,” ujarnya.
Menurut Opung, kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat Pasar Labuhan Keude merupakan salah satu pasar terbesar di Kecamatan Sungai Raya. Ditambah lagi, Gampong Labuhan Keude berada di pusat pemerintahan kecamatan dan bahkan memiliki perwakilan di DPRK dari Fraksi Partai Aceh.
“Seharusnya gampong ini menjadi contoh dalam kebersihan dan ketertiban lingkungan. Tapi yang terjadi malah sebaliknya,” tambahnya.
Ia juga menyoroti lemahnya koordinasi dan pengawasan dari pihak terkait, sehingga masalah sampah terkesan diabaikan.
Keluhan serupa disampaikan oleh warga dan pedagang di pasar. Salah satu pedagang kue kaki lima yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa kondisi ini bukan hanya masalah bau, tetapi sudah menjadi darurat lingkungan.
“Bau busuk dari sampah bisa membawa penyakit. Ini menunjukkan kegagalan tata kelola sampah oleh DLHK Aceh Timur,” tegasnya.
Ironisnya, menurut warga, setiap minggu petugas kebersihan rutin mengutip uang sampah dari para pedagang, namun pelayanan kebersihan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Beberapa bulan lalu, pihak Muspika Sungai Raya bahkan turun langsung membersihkan sampah di tepi jalan nasional. Aksi ini sempat menjadi contoh baik bagi masyarakat, namun kondisi saat ini dinilai justru menunjukkan kemunduran dalam pengelolaan lingkungan.
Warga berharap, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, khususnya Bupati Iskandar Usman Al-Farlaky, segera turun tangan mengatasi persoalan ini sebelum berdampak lebih luas pada kesehatan masyarakat.






