Award Winners

Penerima MBG Direvisi, Sejumlah Sekolah Mulai Dicoret

Harian Reportase - Jumat, 19 Juni 2026
Penerima MBG Direvisi, Sejumlah Sekolah Mulai Dicoret
Ilustrasi MBG. (Dok. Istimewa)  
Bagikan:

HARIANREPORTASE.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menjadi salah satu program strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat kini memasuki tahap penyesuaian sasaran. Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan revisi terhadap kelompok penerima manfaat agar bantuan yang diberikan lebih tepat sasaran dan efektif menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Langkah tersebut ditandai dengan keputusan BGN mencoret sementara 76 sekolah di Pulau Jawa dari daftar penerima program MBG. Sekolah-sekolah tersebut dinilai memiliki kemampuan mandiri dalam memenuhi kebutuhan gizi peserta didiknya sehingga tidak lagi memerlukan intervensi pemerintah.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Agustina Arumsari, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil pendataan dan evaluasi yang dilakukan pemerintah terhadap kondisi sosial ekonomi serta tingkat kerentanan gizi di berbagai wilayah.

“Sekolah-sekolah tersebut secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan gizi mereka sehingga tidak membutuhkan intervensi dari pemerintah,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Kompas.com, Kamis (18/6/2026).

Prioritaskan Kelompok yang Membutuhkan Intervensi Gizi

Revisi penerima manfaat MBG dilakukan sebagai upaya meningkatkan efektivitas program dalam mengatasi persoalan gizi, termasuk stunting dan kekurangan gizi pada kelompok rentan.

Baca Juga:  Lulus PPPK 2021, 193.954 Guru Belum Dapat Formasi

Dalam skema terbaru, pemerintah tetap memprioritaskan sejumlah kelompok yang dinilai membutuhkan dukungan pemenuhan gizi secara langsung, yaitu:

1. Ibu Hamil

Kelompok ibu hamil tetap menjadi sasaran utama program MBG. Pemberian makanan bergizi diharapkan dapat mendukung kesehatan ibu sekaligus mencegah risiko stunting sejak masa kehamilan.

2. Ibu Menyusui

Pemerintah juga mempertahankan bantuan bagi ibu menyusui guna menjaga kualitas air susu ibu (ASI) dan memastikan kebutuhan gizi bayi terpenuhi dengan baik.

3. Balita

Balita menjadi kelompok prioritas karena berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang sangat menentukan kualitas kesehatan di masa depan.

4. Pelajar di Wilayah 3T

Siswa yang tinggal di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) tetap menjadi fokus penerima manfaat karena keterbatasan akses terhadap pangan bergizi masih menjadi tantangan utama di wilayah tersebut.

5. Siswa dari Keluarga Kurang Mampu

Program MBG akan lebih difokuskan kepada anak-anak yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi sehingga kesulitan memenuhi kebutuhan makanan sehat dan bergizi setiap hari.

Baca Juga:  Daftar 136 Kapolres Yang Dirotasi Kapolri

Sekolah dan Siswa Mampu Berpotensi Tidak Lagi Menerima MBG

Selain sekolah yang dinilai mampu memenuhi kebutuhan gizi siswanya secara mandiri, BGN juga mempertimbangkan pengurangan penerima manfaat dari kalangan siswa yang berasal dari keluarga berkecukupan.

Menurut Agustina Arumsari, siswa sekolah menengah atas (SMA) dari kelompok ekonomi atas berpotensi tidak lagi menjadi penerima program MBG. Langkah tersebut dilakukan agar anggaran dapat difokuskan kepada kelompok yang lebih membutuhkan.

Sebagai ilustrasi, siswa yang memiliki uang saku harian relatif tinggi dianggap memiliki akses yang lebih baik terhadap kebutuhan pangan bergizi dibandingkan kelompok rentan.

BGN memperkirakan kebijakan ini dapat mengurangi jumlah penerima manfaat hingga sekitar 8 juta orang, sehingga alokasi anggaran dan sumber daya dapat lebih efektif digunakan untuk meningkatkan kualitas gizi kelompok sasaran prioritas.

Pendataan dan Evaluasi Terus Dilakukan

BGN menegaskan bahwa proses evaluasi masih berlangsung dan jumlah sekolah yang dikeluarkan dari daftar penerima manfaat kemungkinan akan bertambah. Penentuan sasaran dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai indikator, antara lain tingkat kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi masyarakat, serta akses terhadap pemenuhan kebutuhan pangan bergizi.

Baca Juga:  MA Perintahkan KPU Cabut Aturan Batas Usia Calon Kepala Daerah

Melalui penyesuaian tersebut, pemerintah berharap program MBG tidak sekadar menjangkau banyak penerima, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi kelompok yang paling membutuhkan.

Edukasi Publik: Tepat Sasaran untuk Dampak yang Lebih Besar

Penyesuaian sasaran penerima MBG merupakan bagian dari prinsip keadilan sosial dalam kebijakan publik. Program bantuan gizi pada dasarnya dirancang untuk membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pangan sehat dan bergizi.

Dengan memfokuskan bantuan kepada ibu hamil, ibu menyusui, balita, pelajar di wilayah 3T, serta keluarga kurang mampu, pemerintah berupaya memastikan setiap rupiah anggaran negara memberikan manfaat maksimal dalam meningkatkan kualitas kesehatan generasi Indonesia.

Ke depan, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari jumlah penerima, tetapi juga dari kemampuannya menurunkan angka stunting, meningkatkan kualitas gizi masyarakat, dan menciptakan sumber daya manusia yang lebih sehat dan produktif.

Artikel edukasi ini disusun berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh Kompas.com pada 18 Juni 2026 dan telah diolah kembali untuk kepentingan informasi serta edukasi publik.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar