HARIANREPORTASE.com — Dari sudut pandang etimologi kata Beurakah agak sulit diartikan karena tidak ada kata sepadan dengannya dalam Bahasa Melayu semisal; batei dalam Bahasa Aceh batu dalam Bahasa Melayu, kayei dalam Bahasa Aceh sama dengan kayu dalam Bahasa Melayu, abei dalam Bahasa Aceh bermakna abu dalam Bahasa Melayau.
Kalaupun kita mau dibahasakan dalam Bahasa Melayu ia dapat disamakan dengan kata; ramah, bergairah, mandiri dan sigap.
Dalam pandangan terminologi ianya dapat diramu sebagai suatu sifat yang melekat pada seseorang sehingga dengan sifat tersebut orang itu nampak bergaya ramah, bergairah, bersahaja dan mengandung nilai lucu sehingga orang lain yang berhadapan dengannya mendapat jatah gairah juga.
Beurakah merupakan istilah dalam Bahasa Aceh yang mengandung makna ramah bercampur lucu.
Seseorang yang Beurakah itu bermakna orang tersebut memiliki sifat yang bersahabat dengan orang lain dan setiap berjumpa orang lain, orang tersebut merasa senang kepadanya dengan cara dia berbicara, cara dia bergurau dan cara dia menguasai suasana.
Orang Beurakah itu biasanya memiliki banyak kawan dan sedikit lawan karena hampir semua orang senang dan menyatu dengan sikap, cara dan gaya komunikasinya.
Ketika ada satu jama’ah yang sedang berfarikah, sedang berdialog secara tegang seperti orang mau berkelahi umpamanya, secara tiba-tiba datang orang Beurakah tadi masuk dan bergabung dalam dialog tersebut, begitu orang Beurakah ngomong sepatah kata atau beberapa kata membuat semua orang yang sedang berdialog tadi merasa nyaman dan suasananya tidak lagi tegang, dialog menjadi cair dan anggota dialogpun menjadi riang karena sikap dan sifat orang Beurakah yang angkat bicara dalam dialog yang menegangkan tadi.
Orang Beurakah dalam persepsi Aceh adalah pribadi yang selalu bergairah, hidup kelihatan tanpa masalah walaupun sedang dililit oleh sejuta permasalahan.
Orang semacam ini hidupnya jauh dari permusuhan, jauh dari bebanan, jauh dari kesedihan dan jauh dari kesusahan, sebaliknya kelihatan selalu bugar, selalu riang, selalu tenang dan selalu nyaman.
Walaupun ianya tidak mempunyai uang, sedang dilanda mala petaka, sedang sakit-sakitan, sedang ditipu orang dan semisalnya.
Orang Beurakah memandang masa depan itu selalu cerah dan menyorot masa silam dengan senyuman berkah, sehingga hidupnya terkesan seperti tidak pernah bermasalah walaupun sedang dilanda banyak masalah.
Ketika ada beberapa orang yang sedang duduk dan berdiskusi tentang suatu pembunuhan yang baru saja terjadi di kampung mereka, suasana diskusi tentunya sangatlah ngeri, takut dan tegang karena semua orang takut terhadap pembunuhan.
Dalam suasana tegang tersebut datang seseorang membawa khabar baru tentang cerita orang menikah yang tidak tau menjawab ijab qabul nikahnya, ketika qadhi berucap: saya nikahkan kamu Zuhaidi bin Iqbal dengan Sitizuhra binti Abdullah dengan mahar sepuluh manyam emai murni tunai. Lalu Zuhaidi menjawab: saya terima nikah dia untuk saya sendiri bukan untuk orang lain dan tidak boleh diambil dia oleh orang lain.
Dengan kisah tersebut membuat suasana tegang terkait kisah pembunuhan tadi berobah menjadi cair, riang dan menyenangkan bagi semua orang. Cara dan sikap pembawa berita pernikahan tersebut dikatakan orang Beurakah.
Dalam permisalan lain, Ketika terjadi rapat untuk menentukan orang yang menjadi pemasak kanji rumbi di suatu kampung dalam bulan Ramadhan, beberapa orang mengusulkan calon orang yang layak dan berpengalaman memasak kanji rumbi, namun orang yang diusulkan (katakanlah namanya Apamaun) berupaya keras untuk menolaknya dengan berbagai alasan termasuk alasan kesehatan.
Kebetulan pada malam rapat tersebut Apamaun sedang mancret tidak enak perutnya, maka ia menjadikan mancret tersebut sebagai alasan tidak mau menjadi tukang masak kanji rumbi untuk bulan Ramadhan tersebut.
Sejumlah orang coba meyakinkan dia dengan berbagai usulan, ada yang mengusulkan; makan entrostop saja malam ini Apamaun esok pagi insya Allah akan sembuh mancretnya.
Yang lain mengusulkan; jangan entrostop tapih Apamaun boleh makan Tandiare saja, malam ini insya Allah malam ini juga berhenti mancretnya, saya baru saja kemarin mancret lalu makan Tandisre langsung hilang mancretnya.
Di Tengah berbagai usulan yang ditawarkan berbicaralah seseorang; persoalan mancret itu jangat diambil kira dan jangan dijadikan alasan untuk tidak mau menerima pahala yang ditawarkan warga wahai pak Maun, habis rapat ini pulang kerumah ambil putik sawo tumbuk atau blender lalu saringkan ampasnya dan minumlah airnya, kalau itu yang pak Maun lakukan belum diminum air putik sawo tersebut mancret pak Maun sudah hilang. Mendengar tawaran orang tersebut semua peserta rapat pada keatawa terbahak-bahak, pembicara terakhir tadi adalah contoh lain dari orang Beurakah.
Dalam perumpamaan lain; ada seorang mahasiswa pada suatu fakultas di sebuah universitas yang sangat anti Pancasila, sedangkan di fakultas tersebut ada mata kuliah Pancasila yang diajarkan seorang dosen dengan sungguh-sugguh sekali. Mahasiswa tersebut Ketika masuk dosen Pancasila selalu berdebat karena dalam pemikiran dia Pancasila itu sesat lagi menyesatkan. Karena setiap pekan masuk dosen selalu didebat oleh mahasiswa tersebut maka dosen melaporkan sikap mahasiswa itu kepada dekan sebagai pimpinan fakultas, lalu dekan bersama para pembantu dekan memanggil mahasiswa dimintakan pertanggungjawaban terhadap sikapnya yang dianggap terlalu berlebihan.
Dalam suasana dekan dan para pembantu dekan sedang serius menyerang sang mahasiswa dengan argument; negara ini berdasarkan Pancasila tidak boleh kita menolak dan menyesatkan Pancasila dan seterusnya.. dalam suasana yang sangat mencekan itu tiba-tiba masuklah seorang wakil dekan yang baru selesai memberikan kuliah, ketika melihat mahasiswanya sedang tersudutkan di ruang dekan wakil dekan tersebut segera berucap: ooooo kamu rupanya yang anti Pancasila yang baru kemarin kita berbincang tentang perkara tersebut, tidak ada masalah ini pak dekan kami selalu berdiskusi tentang Pancasila dengan dia dan dia tidak benci Pancasila Cuma mencari pusat kebenaran dan kesesatan saja dalam mengamalkannya, samasekali tidak ada masalah. Kalau ini mahasiswa teman diskusi saya biar esok lusa kami bisa berdiskusi lagi. Dengan sikap dan cara wakil dekan tersebut membuat si mahasiswa aman para pimpinan fakultaspun senang. Sikap wakil dekan yang satu ini termasuk dalam kategori Beurakah.
Hampir semua kampung di bumi Aceh memiliki balai tempat duduk beristirahat selain meunasah, masjid, bulukoh (pos jaga malam) dan lainnya. Di tempat-tempat tersebut sering sekali orang-orang Beurakah beraksi memerankan kebeurakahannya kepada masyarakat dengan berbagai cerita, berbagai kisah, berbagai cara, berbagai penampilan, berbagai adegan.
Di sebuah kampung di sudut kota tua bernama Blang Malu ada seorang lelaki paruh baya bernama Ramli bin Mahmud yang oleh orang-orang kampung memanggilnya; Bang Ramli.
Bang Ramli ini selalu ketika sudah berada dalam masyarakat suka sekali menceritakan hal-hal Beurakah yang dalam kebiasaan orang Aceh disebut Poh Beurakah. Suatu Ketika Bang Ramli di meunasah kampungnya selesai shalat maghrig mengkisahkan satu adegan lucu tetapi benar terjadi.
Di kampung sebelahnya ada seorang lelaki yang suka sekali berhutang tetapi susah sekali membayar hutang, namanya Muhammad Luthan. Suatu hari Muhammad Luthan ketemu dengan pemilik hutang ketika dia sedang berbelanja di pasar ikan. Sipemilik hutang merapat dan meminta Muhammad Luthan agar hari itu juga harus membayar hutangnya, secara cepat Muhammad Luthan menjawab: sudah lama sekali saya simpan uang hutangmu di rumah kenapa tidak datang untuk mengambilnya, saya sudah amanahkan kepada isteri kalau kamu datang suruh kasih uang tersebut.
Esok harinya pemilik hutang datang ke rumah Muhammad Luthan dan ketemu dengannya, Muhammad Luthan meminta tamunya duduk di balai depan rumahnya seraya meminta isterinya menyuguhkan minuman kopi kepada pemilik hutang tersebut, sambil menikmati kopi racikan isteri Muhammad Luthan sipemilik hutang mengira sudah lunas hutangnya hari itu.
Sementara Muhammad Luthan naik kerumahnya membuka kasur seraya bertanya kepada isterinya yang sedang memasak di dapur: wahai isteriku sayang, kemana engkau bawa uang yang sudah lama aku simpan untuk membayar hutang, itu pemilik hutang sudah datang, isterinya menjawab: saya pikir itu uang belanja sudah saya ambil untuk beli beras dan ikan kemarin.
Muhammad Luthan mengambil kayu memukul bantal di kamarnya pum, pum, pum seraya berucap: sudah kubilang itu uang untuk bayar hutang tetapi kamu ambil juga, mendengar bunyi tersebut dan isteri Muhammad Luthan menjerit dan menangis di dapur dengan sekeras-kerasnya, pemilik hutang berpikir gara-gara dia datang menagih hutang membuat Muhammad Luthan memukul isterinya, segera ia lari terbirit-birit karena takut…… kisah Bang Ramli ini disebut kisah Beurakah.