Award Winners

HIV dan AIDS Ancaman Generasi Muda

Harian Reportase - Minggu, 4 September 2022
HIV dan AIDS Ancaman Generasi Muda
Muhammad Iqbal, M.Pd. (Doc: Ist/Harian Reportase).  
Penulis
|
Editor
Bagikan:

Oleh : Muhammad Iqbal, M.Pd (Guru SMP IT Al Kahfi, Sumatra Barat)

HARIANREPORTASE.com — Pergaulan bebas yang terjadi di kalangan pemuda seringkali menimbulkan berbagai kasus yang membahayakan, seperti kasus HIV dan Aids yang menjadi momok paling menakutkan bagi seluruh negara termasuk Indonesia.

Kasus yang menimpa orang-orang yang gemar melakukan penyimpangan seksual ini semakin hari semakin meresahkan semua orang terutama bagi orang tua, mereka sangat mencemaskan anaknya menjadi salah satu pelaku atau korban dari kasus paling berbahaya itu.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan hingga Juni 2022, ada sebanyak 522.674 kasus HIV yang tercatat di Indonesia.

Meskipun cenderung fluktuatif, data kasus HIV / AIDS di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara itu pada data yang dihimpun oleh Kemenkes tersebut persentase HIV tertinggi  terjadi pada kelompok umur 25-49 tahun (70,7 persen), diikuti kelompok umur 20-24 tahun (15,7 persen), dan kelompok umur di atas 50 tahun (7,1 persen).

Dari data tersebut menunjukkan bahwa penderita  HIV / Aids didominasi oleh para pemuda. Hal itu semakin diperkuat dengan anggapan bahwa pemuda sangat berpotensi terhadap risiko penyakit menular tersebut dikarenakan faktor perilaku dan perkembangan emosionalnya yang baik.

Baca Juga:  Aceh Juara Umum Selancar, Kumpulkan Empat Emas dan Dua Perak

Oleh karenanya Kondisi tersebut tidak bisa terus dibiarkan, sebab HIV atau Aids akan menyebabkan berbagai dampak yang sangat membahayakan.

Diantara dampak yang dapat ditimbulkan jika seseorang terkena HIV atau Aids adalah terkena penyakit tuberculosis (TBC), toksoplasmosis, Kriptosporidiosis, Sitomegalovirus, Kandidiasis, , Kriptokokus Meningitis, Limfoma atau Kanker Kelenjar Getah Bening, Pneumonia Kronis, Sindrom Wasting pada AIDS.

Paling parahnya lagi kasus HIV atau Aids yang menimpa banyak generasi muda ini ternyata sampai sekarang belum memiliki obat khusus yang dapat menyembuhkannya.

Sebagai generasi penerus bangsa yang berperan sebagai agen perubahan, mestinya para pemuda menyadari ancaman berbahaya ini.

Mereka harusnya menjadi garda terdepan dalam mengurangi ancaman tersebut melalui berbagai alternatif  solusi seperti sosialisasi tentang bahaya HIV / Aids kepada para pemuda lainnya, kampanye anti HIV / Aids dan berbagai gerakan positif lainnya, yang tujuan utamanya adalah untuk menekan laju pertumbuhan kasus HIV / Aids di Indonesia.

Baca Juga:  Besok, MK Putuskan 40 Perkara Sengketa Pilkada 2024

Selain itu, berbagai strategi lain juga dapat dilakukan untuk menghentikan penyebaran kasus paling berbahaya tersebut. Diantara strategi yang dapat dilakukan adalah dengan berkolaborasi dengan lembaga – lembaga terkait seperti dinas kesehatan, pendidikan, dan orang tua. Ketiga elemen tersebut mesti benar-benar melakukan kolaborasi agar kasus HIV atau Aids di Indonesia yang menimpa generasi muda akan jauh lebih mudah untuk diselesaikan.

Dinas kesehatan yang paling berperan dalam memberikan  pelayanan kesehatan bagi masyarakat mesti benar-benar mengawal dan membimbing masyarakatnya terutama para pemuda untuk selalu berhati-hati terhadap peluang penyebaran virus HIV/Aids yang semakin hari semakin besar.

Para petugas kesehatan tersebut hendaknya tidak hanya diam menunggu pasien terinfeksi datang, hendaknya mereka juga berinisiatif menjemput bola dengan kegiatan sosialisasi, pelatihan dan pendampingan terhadap generasi muda agar terhindar dari HIV atau Aids.

Begitu pun dengan lembaga pendidikan. Sebagai wadah intelektual tempat bernaungnya para akademisi, lembaga pendidikan harusnya mampu memberikan penguatan berupa sosialisasi pendidikan seks sejak usia dini, sehingga menutup peluang terjadinya penyimpangan seksual yang merupakan salah satu penyebab kasus HIV dan Aids bisa terjadi.

Baca Juga:  LAGÈI CINA DEUNGÖ SEUDATI

Terakhir, agar berbagai strategi tersebut dapat berjalan maksimal, maka harus ada dukungan yang kuat dari para orang tua sebab mereka adalah motivator terbaik setiap anak, lewat ketulusannya mendidik  maka menimbulkan kekuatan dalam menahan diri agar terhindar dari berbagai perbuatan menyimpang, oleh karenanya orang tua diharapkan selalu hadir dalam mengawasi tumbuh kembangnya anak.

Pemuda adalah harapan bangsa yang dididik dengan penuh kepercayaan untuk disiapkan sebagai pengisi pos-pos strategis bangsa di masa depan.

Begitu juga dengan bonus demografi yang sebentar lagi menghampiri kita dan para pemudalah yang akan menjadi aktor utama dalam memanfaatkannya.

Namun jika mereka semua terkena HIV, maka kepada siapa lagi harapan ini dititipkan, oleh karenanya sebagai seorang pemuda diminta untuk berhati-hati dalam memilih pergaulan, jangan sampai kebablasan.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar