Profil Anies Baswedan, Riwayat Pendidikan, Karier, dan Penghargaan

Harian Reportase - Jumat, 23 September 2022
Profil Anies Baswedan, Riwayat Pendidikan, Karier, dan Penghargaan
H. Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D  
Penulis
|
Editor

HARIANREPORTASE.com – Nama Anies Baswedan Belakangan ini semakin sering dibicarakan dikalangan masyarakat, terutama sejak memimpin DKI Jakarta dan Saat dirinya masuk dalam daftar salah satu Calon Presiden potensial ditahun 2024 mendatang.

Anies Baswedan dengan nama lengkap H. Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D. resmi menjabat Gubernur DKI Jakarta pada 16 Oktober 2017, Anies telah melakukan berbagai terobosan dalam mengubah kota Jakarta menjadi kota Metropolitan.

Berbagai pembangunan kelas dunia hadir di Jakarta, diantaranya Pembangunan formula E atau balap mobil listrik di Ancol, Jakarta International Stadium (JIS) berstandar FIFA, dan masih banyak proyek lainnya yang telah dibangun Anies.

Oleh karena itu, menarik untuk mengenal lebih dalam sosok Anies Baswedan, mulai dari riwayat pendidikan, karier, hingga penghargaan yang pernah diraih.

Berikut rangkuman Harianreportase.com dari berbagai sumber.

Anies dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, pada 7 Mei 1969 dari pasangan Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid.

Laki-laki berusia 53 tahun ini memiliki 2 orang adik, yakni Ridwan Baswedan dan Abdillah Baswedan.

Usia 5 tahun, Anies mengenyam pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK) Masjid Syuhada.

Usia 6 tahun, Anies masuk Sekolah Dasar (SD) Laboratori, Yogyakarta.

Kemudian Anies melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 5 Yogyakarta.

Saat duduk dibangku SMP, Anies sudah aktif diberbagai organisasi, seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Kemudian Anies melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Yogyakarta.

Saat dibangku SMA, Anies tetap aktif berorganisasi hingga terpilih menjadi Wakil Ketua OSIS.

Anies juga mendapat kesempatan mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama 300 orang Ketua OSIS se-Indonesia.

Kemudian, Anies terpilih menjadi Ketua OSIS se-Indonesia pada tahun 1985.

Pada 1987, dia terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat.

Hal itu membuat Anies harus menempuh masa SMA selama empat tahun dan baru lulus pada tahun 1989.

Sejak kecil, Anies sudah dikenal sebagai seseorang yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman.

Setelah kembali ke Yogyakarta, Anies mendapat kesempatan berperan di bidang jurnalistik.

Anies bergabung dengan program Tanah Merdeka di Televisi Republik Indonesia (TVRI) cabang Yogyakarta dan mendapat peran sebagai pewawancara tetap tokoh-tokoh nasional.

Atas pendidikan dan pengalaman tersebut membuat Anies semakin aktif berkiprah dalam berbagai kegiatan, baik akademik maupun non-akademik.

Kemudian, Anies melanjutkan pendidikan ke Universitas Gajah Mada (UGM), Fakultas Ekonomi pada 1989-1995.

Saat kuliah di UGM, Anies tetap aktif berorganisasi.

Anies bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam, dan menjadi salah satu anggota Majelis Penyelamat Organisasi HMI UGM.

Baca Juga:  Mulai 1 Agustus, Mobil Ini Dilarang Isi Pertalite

Anies juga pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa dan ikut membidangi kelahiran kembali Senat Mahasiswa UGM setelah dibekukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada waktu itu.

Kemudian pada kongres tahun 1992, Anies terpilih sebagai Ketua Senat Universitas dan membuat beberapa gebrakan dalam lembaga kemahasiswaan di UGM.

Anies juga membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai lembaga eksekutif yang memosisikan senat sebagai lembaga legislatif yang kemudian disahkan dalam kongres pada tahun 1993.

Selama masa kepemimpinannya, Anies memulai gerakan berbasis riset, sebuah tanggapan atas tereksposnya kasus Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang menyangkut putra Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra.

Anies turut menginisiasi demonstrasi melawan penerapan Sistem Dana Sosial Berhadiah pada bulan November 1993 di Yogyakarta.

Ketika sedang duduk di bangku kuliah, tepatnya pada 1993, Anies mendapat beasiswa dari JAL Foundation untuk mengikuti kuliah pada musim panas di Sophia University, Tokyo dalam bidang kajian Asia.

Adapun beasiswa itu, dia mendapatkannya setelah memenangkan sebuah lomba menulis dengan tema tentang lingkungan.

Pada 1995, Anies mendapat gelar sebagai Sarjana Ekonomi (Bachelor of Science equivalent) dari Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta, Indonesia.

Kemudian, dia melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Maryland, College Park, Amerika Serikat (AS).

Kehidupan dan perjalanan karier Anies Baswedan

Setelah menyelesaikan pendidikan S1, dia menikah dengan perempuan bernama Fery Farhati Ganis, tepatnya pada 11 Mei 1996.

Fery bukanlah perempuan biasa, sebelum menikah dengan Anies, ternyata dia memiliki deretan profesi mentereng dan berhasil meraih banyak prestasi.

Setelah menikah dengan Anies, Fery turut mendukung suaminya dengan aktif dalam berbagai bidang.

Fery sendiri pernah menjabat sebagai Ketua PKK DKI Jakarta, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi DKI Jakarta, Bunda PAUD Provinsi DKI Jakarta, Penasihat Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi DKI Jakarta, dan Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi DKI Jakarta.

Fery juga sering diundang sebagai pembicara di berbagai lembaga dan organisasi. Dia menjadi ibu dari empat orang anaknya bernama Mutiara Annisa Baswedan, Mikail Azizi Baswedan, Kaisar Hakam Baswedan, dan Ismail Hakim Baswedan.

Meskipun sudah menikah, Anies tidak berhenti untuk menimba ilmu. Dia melanjutkan pendidikan S2.

Pada 1998, dia mendapat gelar sebagai Master of Public Management, Sekolah Urusan Publik dari Universitas Maryland.

Tak lelah menimba ilmu, kemudian dia juga melanjutkan pendidikan di Northern Illinois University, AS.

Tepat pada 2004, dia menyelesaikan pendidikannya dan mendapat gelar Doctor of Philosophy, Departemen Ilmu Politik dari Universitas tersebut.

Ketika sedang menimba ilmu S3, dia berkarier sebagai Research Assistant di Kantor Penelitian, Evaluasi, dan Studi Kebijakan, Northern Illinois University pada 2000 sampai 2004.

Baca Juga:  Masyarakat Boleh Tak Pakai Masker di Area Terbuka

Setelah menyelesaikan pendidikan S3, Anies tetap berkiprah dalam banyak hal. Dia sering berkarier dan mendapat posisi bergengsi yang membuat dia semakin dikenal oleh publik.

Pada 2004-2005, Anies berkarier sebagai Research Manager, IPC Inc., Bannockburn, Illinois, USA.

Kemudian, dia melanjutkan kariernya sebagai Senior Researcher, Lembaga Survei Indonesia pada 2005 hingga 2007.

Bukan hanya itu, dia juga berkarier di National Advisor for decentralization and regional autonomy, Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, selama satu tahun tepatnya pada 2006-2007.

Kemudian, Anies melanjutkan kariernya di Research Director, Institut Indonesia, Pusat Analisis Kebijakan Publik, pada 2005 hingga 2009.

Pada 2007, Anies juga menjabat sebagai Rektor dan Presiden di Universitas Paramadina Presiden.

Cucu dari pejuang kemerdekaan Abdurrahman Baswedan itu disebut sebagai rektor termuda yang pernah dilantik oleh sebuah perguruan tinggi di Indonesia, yakni ketika masih berusia 38 tahun.

Anies juga dikenal sebagai anggota Dewan Pemimpin Muda untuk Indonesia di Jakarta, sejak 2008 hingga sekarang.

Anies pun menjabat sebagai Dewan Penasehat Bina Antarbudaya di Jakarta, Indonesia sejak 2009 sampai sekarang.

Pada 2010-2013, dia menginiasi gerakan Indonesia mengajar dan menjabat sebagai Founder dan Chairman di Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar.

Kemudian, Anies mulai terjun dan berkarier dalam dunia pemerintahan di Indonesia.

Dia menjabat sebagai anggota Panitia Seleksi Komisaris KPU dan Bawaslu, selama satu tahun, tepatnya pada 2011 hingga 2012.

Sejak 2009, dia menjabat sebagai Dewan Manajer AMINEF di Jakarta hingga 2013.

Mulai September 2013, Anies diangkat sebagai Dewan Pengawas AMINEF di Jakarta, Indonesia hingga saat ini.

Puncak karier Anies terjadi pada 2014, dia terpilih sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam Kabinet kerja masa kerja 2014 hingga 2019.

Selain deretan pendidikan dan karier menterang yang dipaparkan di atas, Anies juga berhasil mendapat banyak penghargaan dan mengikuti banyak konferensi bergengsi di luar negeri.

Penghargaan yang diraih oleh Anies Baswedan

  1. Program Tahun AFS in South Milwaukee Senior High School, USA (1987).
  2. Beasiswa JAL from JAL Foundation, Japan (1993).
  3. Program Penghargaan Mahasiswa ASEAN from USAID – USIA – NAFSA (1998).
  4. Beasiswa Fulbright from The American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF). (1997 – 1998).
  5. William P. Cole III Fellowship from School of Public Policy, University of Maryland, USA (1998).
  6. Beasiswa ICF in New York (1999-2003).
  7. Gerald S. Maryanov Fellow from Northern Illinois University, USA (2004).
  8. Top 100 Intelektual Publik from Foreign Policy Magazine (2008).
  9. 20 Angka Masa Depan Dunia “20 Orang 20 Tahun” from Foresight Magazine, Tokyo, Japan (April 2010).
  10. Pemimpin Global Muda from World Economic Forum at Tanzania (June 2010).
  11. Nakasone Yasuhiro Awards (June 2010).
  12. 500 Muslim Paling Berpengaruh (2010).
  13. Pengunjung Internasional untuk Tahun Akademik 2010 – 2011 (Mei 2011).
  14. Penghargaan Soegeng Sarjadi untuk Inisiatif Hak Asasi Manusia (Oktober 2011).
  15. Anugerah Integritas Nasional from Komunitas Pengusaha Antisuap (Kupas) serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia (Agustus 2013).
  16. Penghargaan Tokoh Inspiratif from Anugerah Hari Sastra Indonesia (Juli 2013).
  17. Dompet Dhuafa Award 2013 from Dompet Dhuafa (Juli 2013).
  18. Penghargaan emas from Rakyat Merdeka (Juni 2013).
Baca Juga:  Mobil-Mobil China Makin Ganas di Pasar RI

Konferensi yang pernah dihadiri oleh Anies Baswedan

  1. 8th Asia-Europe Foundation Journalist’s Colloquium at Madrid, Spain. Held by Asia-Europe Foundation (ASEF), Spain (April 2010).
  2. International Symposium of Overseas Indonesian Students Association Alliance at Den Haag Netherland (Juli 2010).
  3. ADC Leadership Retreat at Hayman Island, Australia. Held by ADC Forum, Australia (Agustus 2010).
  4. ASEAN 100 Annual Debate at Kuala Lumpur, Malaysia. Held by ASEAN 100 Leadership Forum (September 2010).
  5. BBC World Debate Program at Istanbul, Turkey. Held by ISIS Malaysia and Bahcesehir University, Istanbul, Turkey (Februari 2011).
  6. 10th Asian Statemen’s Forum at Sendai, Japan (Agustus 2011).
  7. 149th Bergedorf Round Table in Berlin, Germany. Held by Korber Foundation (September 2011).
  8. Round Table Discussion in Singapore. Held by Lee Kuan Yew School of Public Policy (September 2011).
  9. U.S-Islamic World Forum in Doha, Qatar (as a speakers on plenary session) (Mei 2012).
  10. Congress of Indonesia Diaspora in Los Angeles, United States (Juli 2012).
  11. Indonesia Update Conference 2012 in Australia National University, Canberra (September 2012).
  12. The 6th of British Council’s Global Education Dialogues East Asia Series in Tokyo, Jepang (as a keynote speaker) (Januari 2013).
  13. Social Innovation in Education Conference in Jakarta, Indonesia. Held by Ideafest (Idea Festival) (Oktober 2013).
  14. Public lecture “fulfilling the promises of Indonesia independence” in Padang, West Sumatera. Held by Faculty of Cultural Science Andalas University (as a main speakers) (November 2013).
  15. National Seminar Universitas Islam Bandung in Bandung (keynote speaker). This forum discussed about “Opportunities and Challenges of Indonesian Human Resources to facing ASEAN/MEA 2015” (Desember 2013).

Demikian profil Anies Baswedan, mulai dari riwayat pendidikan, karier, hingga penghargaan yang pernah diraih, yang dilansir dari berbagai sumber, utamanya dari laman Kompas.com, Jum’at (23/9/2022)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar