Taheran, HARIANREPORTASE.com — Pemimpin gerakan HAMAS, Ismail Haniyeh dilaporkan syahid di ibu kota Iran, Teheran, dalam sebuah serangan yang menghantam penginapannya, Rabu (31/7/2024).
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa Haniyeh berada di Teheran untuk menghadiri upacara pelantikan Presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian, pada hari Selasa.
Tidak ada pihak yang langsung mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut, namun kecurigaan segera jatuh pada Israel.
Sementara itu, Gerakan HAMAS dalam pernyataan resminya mengatakan, serangan ini sedang diselidiki dan hasilnya akan diumumkan pada hari berikutnya.
“Hamas menyampaikan kepada rakyat Palestina yang agung, kepada umat Arab dan Islam, serta kepada seluruh pejuang kebebasan di dunia, bahwa syahid pejuang Ismail Haniyeh, Ketua Gerakan Hamas, telah gugur akibat serangan mendadak Zionis di kediamannya di Teheran, setelah menghadiri perayaan pelantikan presiden baru Iran,” demikian pernyataan resmi Hamas, Rabu (30/7/2024).
“Dan kepada Allah dan kepada-Nya kita akan kembali Itu adalah jihad, kemenangan atau kesyahidan,” terang bunyi pernyataan resmi Hamas.
“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu adalah orang mati, melainkan mereka itu hidup dan diberi rezeki oleh Tuhannya,” tambahnya.
Profil singkat Ismail Haniyeh
Haniyah lahir di kamp pengungsi Al-Shati di Jalur Gaza pada 29 Januari 1962.
Ia belajar di Universitas Islam Gaza, di mana ia terlibat dengan Hamas, dan lulus dengan gelar sarjana dalam bidang sastra Arab pada tahun 1987.
Sejak ditunjuk untuk mengepalai kantor Hamas pada tahun 1997, ia semakin berkembang di jajaran organisasi tersebut.
Haniya adalah pemimpin politik senior Hamas dan mantan salah satu dari dua Perdana Menteri Otoritas Nasional Palestina yang disengketakan.
Haniya dikenal sebagai pemimpin Hamas yang lebih moderat dan dekat dengan pemimpin spiritual Hamas, Sheikh Ahmad Yassin, yang dibunuh zionis Israel.